Admin | 19 Desember 2025
Default
Karakteristik Lahan dan Kondisi Agroklimat Lahan perkebunan Pesantren Jabal Rahmah terletak di daerah dataran tinggi Solok dengan ketinggian mencapai ±1.200 meter di atas permukaan laut (mdpl). Jenis tanah yang mendominasi adalah Andisol, yaitu tanah hasil pelapukan abu vulkanik yang memiliki tekstur gembur, aerasi baik, dan kandungan bahan organik tinggi — sangat mendukung pertumbuhan umbi bawang merah. Suhu rata-rata harian berkisar antara 18–26°C, dengan curah hujan sedang dan kelembapan udara relatif tinggi. Kondisi ini menuntut pemilihan varietas yang adaptif terhadap suhu rendah serta tahan terhadap serangan penyakit tular kelembapan. Dari hasil pengamatan di lapangan, varietas Batu Ijo menunjukkan ketahanan fisiologis dan performa pertumbuhan terbaik di kondisi tersebut dibanding varietas lain seperti Sumbu Merapi atau SS-Sakato. Keunggulan Varietas Batu Ijo Varietas Batu Ijo merupakan hasil pengembangan Balai Penelitian Tanaman Sayuran (Balitsa), yang dikenal unggul pada lahan dataran tinggi. Umbinya berukuran sedang hingga besar, berwarna merah keunguan, serta memiliki aroma khas dan daya simpan yang panjang. Beberapa keunggulan utama varietas ini antara lain: 1. Adaptif terhadap lahan kering dan suhu rendah. 2. Memiliki umur panen 65–70 hari, relatif cepat dibanding varietas lokal lain. 3. Produktivitas tinggi, mencapai 16–19 ton/ha di lahan Andisol Solok. 4. Daya simpan umbi kering mencapai 2–3 bulan tanpa penurunan mutu. Perlakuan Budidaya untuk Hasil Optimal Agar produksi bawang merah varietas Batu Ijo di lahan pesantren mencapai hasil maksimal, diperlukan penerapan teknik budidaya yang tepat, meliputi: 1. Pengolahan Lahan Tanah dibajak sedalam 20–30 cm untuk memperbaiki aerasi dan drainase. Lahan kemudian dibentuk menjadi bedengan dengan lebar 1 m dan tinggi 30 cm. Tambahkan pupuk kandang matang 15–20 ton/ha untuk meningkatkan kesuburan tanah Andisol yang bertekstur ringan. 2. Pemilihan dan Penyiapan Benih Gunakan umbi benih sehat berukuran 4–6 gram. Potong bagian atas umbi sekitar 1/3 untuk merangsang pertumbuhan tunas, lalu rendam dalam air hangat atau larutan fungisida nabati sebelum ditanam. 3. Penanaman dan Pemeliharaan Penanaman dilakukan dengan jarak 10×20 cm, pada pagi atau sore hari. Penyiraman dilakukan rutin dua kali sehari selama minggu pertama, kemudian disesuaikan dengan kondisi kelembapan tanah. Pemupukan susulan menggunakan NPK dan KCl diberikan pada umur 15 dan 30 hari setelah tanam. 4. Pengendalian OPT (Organisme Pengganggu Tanaman) Lakukan rotasi tanaman dan pemasangan perangkap feromon untuk mengendalikan hama ulat bawang dan trips. Gunakan pestisida nabati berbahan daun mimba atau serai jika diperlukan. 5. Panen dan Pascapanen Bawang dipanen pada saat 70–80% daun rebah dan menguning. Setelah dicabut, umbi dijemur 5–7 hari hingga kadar air turun menjadi ±15%. Proses pengeringan yang baik akan meningkatkan daya simpan dan kualitas visual umbi.
Blog 1
Blog 2